Jakarta (ANTARA News) – Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua, mengatakan, untuk menyelesaikan persoalan Papua harus melalui pendekatan agama, budaya dan kesetaraan.

“Pendekatan keamanan di Papua sudah lama ditinggalkan. Justru sekarang kita lebih menerapkan pendekatan budaya, pendekatan agama, kemudian kesetaraan dimana kita mengajak seluruh lapisan masyarakat melalui keyakinan agamanya,” kata Pangdam XVII/Cenderawasih, ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Senin.

Menurut dia, melalui pendekatan agama Papua akan damai karena tidak ada satu agamapun menganjurkan permusuhan dan melakukan pembunuhan. Selama ini komunikasi kepada masyarakat dinilai kurang baik dan perlu ditingkatkan.

Melalui budaya, kata dia, bisa disampaikan pesan-pesan persaudaraan, pesan-pesan persatuan dan kesatuan, pesan-pesan menghindari konflik, sopan dan tidak saling memusuhi.

“Kesetaraan siapa pun dari Papua punya kesempatan sama dan peluang yang sama untuk melakukan hal-hal positif kepada masyarakat, bangsa dan negara guna membangun Papua,” ucap Christian yang baru menjabat sebagai Pangdam XVII/Cenderawasih.

Menurut Christian, tidak ada satu permasalahan yang besar di Papua, sehingga tidak ada sesuatu yang harus ditakuti karena Papua sebenarnya adalah masyarakat Indonesia sendiri. Adapun kejadian seperti yang kita lihat di televisi, kejadian di Freeport dan beberapa tempat saya kira itu satu kejadian yang memang harus kita atasi bersama, tidak perlu kita takuti, ujarnya.

“Saya sebagai Pangdam Cendrawasih akan berusaha mengajak semua komponen untuk memahami dan meyakini bahwa bisa semua secara bersama bersinergi mengatasi itu. Pasti akan selesai masalah. Tidak ada kesulitan menyelesaikan masalah Papua,” jelasnya yang pernah menjadi pengajar di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

Terkait Organisasi Papua Merdeka (OPM) sendiri, lanjut dia, pihaknya akan mengajak masyarakat yang ada di OPM untuk berpikir yang positif dan konstruktif untuk kehidupan masyarakat Papua secara keseluruhan.

“Janganlah gerakan-gerakan itu masyarakat semakin menderita. Semakin tidak mengecap kemerdekaan Indonesia. Itu yang harus kita terapkan terhadap OPM. Saya yakin ungkapan-ungkapan merdeka tersebut adalah ungkapan ketidakpuasan atau emosional,” tuturnya.

Menanggapi peringatan hari Kemerdekaan OPM pada 1 Desember, kata Pangdam Cendrawasih, hal itu tidak benar. Semua warga Papua saya kira sudah merdeka, tidak ada istilah enggak merdeka. Justru ini yang kita beri pemahaman kepada seluruh masyarakat di Papua dan seluruh komponen bangsa untuk diajak bersama-sama, ucapnya.

Sekelompok kecil orang di Papua (OPM) memang perlu dikomunikasikan secara bersama. Kita imbau kepada mereka untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang mengganggu masyarakat-masyarakat lapisan bawah dalam mencari nafkah atau mengejar ilmu pengetahuan. Ciptakanlah kondisi sehingga Papua semakin maju,” katanya.

Di hubungi secara terpisah, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muridan Widjojo, mengatakan, salah satu penyebab semakin memanasnya konflik di Papua karena adanya manuver aparat di lapangan yaang membuat terjaadinya kekerasaan terhadap masyarakat.

Dirinya pun mengingatkan Pangdam Cendrawasih yang baru menjabat, harus mampu memaksimalkan koordinasi lapangan dibawahnya agar prajurit yang ada di lapangan betul-betul dalam kontrolnya.

“Semua tugas yang ada di pos termasuk antara satuan unit, koordinasinya harus kuat dan bisa dipastikan dalam kontrol Pangdam, dengan demikian jika ada pelanggaran betul-betul ada penegakan hukum. Selama ini wilayah abu-abu jika ada kekerasan, tetapi tidak bisa ditegakkan hukum,” sambungnya seraya mengingatkan kekerasan umumnya tersebar di daerah-daaerah panas atau rawan salah satunya di Enarotali.

Ia menambahkan, TNI harus mampu membuat masyarakat tak terintimidasi atas dalih pengejaran OPM dan TNI diharapkannya bisa bertanggungjawab dengan menjalankan tugasnya sesuai prosedur dan tidak bermain politik atas nama NKRI.

Sumber: Antara