Jakarta – Potensi laut yang kaya dan letak yang strategis menjadikan Indonesia sebagai pintu perdagangan dunia. Menurut Pengamat Militer dari Universitas Indonesia, Edy Prasetyono, hal itu mengharuskan Indonesia memperkuat geopolitiknya melalui pertahanan maritim.

“Hal yang penting dalam geopolitik Indonesia adalah cara pandang bangsa agar melihat Indonesia sebagai negara maritim. Kita harus menjadikan laut sebagai prioritas, ditopang (pertahanan) udara dan darat,” kata Edy.

Hal itu disampaikan Edy dalam acara diskusi Ikatan Sarjana Nadhlatul Ulama (ISNU) dengan tema “Geopolitik dan Diplomasi Luar Negeri,” di Gedung PBNU Jalan Keramat Raya, Jakarta, Senin (5/11/2012).

Edy mengatakan geopolitik merupakan hubungan antara geografi, politik dan kekuatan serta hubungan antar negara yang muncul dari kombinasi ketiga faktor tersebut. Secara sederhana geopolitik berhubungan dengan strategi negara untuk mempertahankan wilayahnya.

“Geopolitik dalam perspektif klasik, melihat negara itu punya ancaman dari negara lain. Jangan berpikir negara tidak punya musuh,” ujar Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia ini.

Menurutnya, jika ada ekspansi kekuatan laut di sebuah negara dan pertahanan laut itu kalah, maka lawan bisa masuk ke darat dan menguasai negara. Oleh karena itu pertahanan laut harus diperkuat.

“Kalau pertahanan kuat maka negara lain akan datang dan mengajak untuk berteman,” ucap Edy.

Menurutnya, Geopolitik Indonesia bersifat anomali karena tidak berdasarkan pada pakem yang ada. Misalnya di kawasan Asia Tenggara, negara terbesarnya adalah Indonesia, tetapi pertahanan Indonesia bukanlah yang terkuat.

“Kalau memenuhi pakem, seharusnya Indonesia sebagai negara terbesar dan Indonesia harus terkuat,” katanya.

Hadir juga dalam acara tersebut, Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa, Mayjend Abdul Chasid dari Lemhanas.

Sumber: detik