SURABAYA–PT PAL Indonesia (Persero) merevitalisasi fasilitas produksi dan perbaikan kapal niaga dan kapal perang dengan dana Rp200 miliar, melalui pemanfaatan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp648 miliar.

Langkah tersebut antara lain ditujukan terhadap fasilitas divisi kapal niaga, guna membidik permintaan atau kebutuhan kapal di sektor minyak dan gas bumi yang potensinya mencapai 526 unit dengan nilai proyek sekitar US$9,43 miliar yang mana di antaranya kebutuhan PT Pertamina saja sebanyak 50 unit.

Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) M. Firmansyah Arifin menyatakan tekadnya guna membangkitkan kembali BUMN industri galangan tersebut dari keterpurukan melalui optimalisasi kompetensi dan fasilitas, setelah beberapa tahun terakhir mengalami kerugian.

Menurutnya, peluang pasar pembangunan kapal baru dan perbaikan kapal sangat besar sehingga peluang tersebut harus diraih dengan merevitalisasi fasilitas produksi agar dapat meningkatkan layanan terhadap pemesan.

Kegiatan revitalisasi tersebut dimulai bulan ini dengan memanfaatkan dana PMN senilai Rp648 miliar. Adapun fasilitas yang direvitalisasi mencakup divisi kapal perang, divisi kapal niaga, divisi perawatan dan perbaikan kapal, divisi teknologi serta divisi rekayasa umum.

“Peluang pasar yang besar ada di depan mata, baik kapal niaga maupun kapal perang, dan saat ini kami tengah membangun 19 unit kapal serta beberapa proyek nonkapal,” ujarnya, Kamis, (1/11).

Kapal yang sedang diproduksi PAL saat ini terdiri dari dua unit tanker berbobot 17.500 dead weight ton (DWT) pesanan PT Pertamina, selain pesanan TNI AL meliputi dua unit kapal tunda 2.400 HP, tiga unit kapal cepat rudal (KCR-60), empat unit landing craft utility (LCU) dan delapan unit landing craft vehicle personel (LCVP).

Firmansyah menambahkan sesudah merevitalisasi fasilitas produksi akan meningkatkan upaya mendapatkan order kapal perang maupun niaga a.l kapal yang dibutuhkan di sektor migas yang mencapai 526 unit dari 14 kategori berbeda, dengan nilai proyek sekitar US$9,43 miliar sesuai data Ditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian. Di antaranya PT Pertamina saat ini membutuhkan 50 unit kapal.

Menurut Manajer Humas PT PAL Indonesia, Bayu Witjaksono, dari dana PMN senilai Rp648 miliar yang diterima BUMN berkantor pusat di Surabaya itu, di antaranya 50% akan digunakan untuk modal kerja.

“50% lagi digunakan restrukturisasi dan revitalisasi fasilitas produksi. Dana yang dimanfaatkan revitalisasi fasilitas produksi Rp150 miliar lebih yakni sekitar Rp200 miliar,” tuturnya.

PAL, lanjut Bayu, juga akan diarahkan untuk membidik peluang jasa di bidang pelatihan terhadap anak buah kapal (ABK) dengan mengoptimalkan fungsi Pusdiklat, menjual desain kapal, jasa perbaikan dan perawatan kapal serta proyek nonkapal (peralatan industri migas dan pembangkit listrik).

Sumber:Bisnis Jatim