Atambua (ANTARA News) – Pintu perlintasan batas negara RI-Timor Leste di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur kini menjadi pintu masuk bagi tindak pidana penyelundupan narkotika dan psikotropika menuju Indonesia.

“Saya bisa katakan itu, karena kondisi sarana dan prasaran pendukung seperti alat deteksi kita di pintu masuk perbatasan belum memadai,” kata Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur, Brigjen (Pol) Ricky HP Sitohang, yang dihubungi dari Atambua, Kamis.

Dia mengatakan, keterbatasan alat pendeteksi barang-barang terlarang seperti narkoba yang belum dimiliki aparat di pintu lintas batas milik Indonesia di pos perbatasan negara, menjadi faktor bebasnya perdagangan narkoba ke Indonesia.

Dia menyebutkan, untuk narkoba, yang sudah melintasi pintu masuk di tapal batas negara RI dari Timor Leste, tercatat yang sudah ditangkap berjumlah 10 kg jenis sabu-sabu dari tiga kali penangkapan, dengan total nilai mencapai Rp16,5 miliar.

“Ini yang tertangkap, berapa banyak jumlahnya untuk yang lolos,” kata Sitohang.

Menurut dia, perdagangan narkoba internasional tersebut, berasal dari Malaysia, Singapura dan India yang mengambil jalan laut menuju Timor Leste.

Selanjutnya melalui jalan darat dibawa ke Kupang untuk diteruskan ke sejumlah gembong pemesan yang berada di Cirebon, Lampung dan Jakarta.

Dia mengatakan, lolosnya barang haram tersebut ke Nusa Tenggara Timur melalui pintu perbatasan RI-Timor Leste, karena barang haram tersebut, oleh pemerintah Timor Leste belum diatur dalam sebuah regulasi yang melarang peredarannya.

“Sistem deteksi kita di pintu masuk yang masih di bawah standar yang tidak mampu mendeteksi barang haram tersebut,” kata Brigjen Sitohang.

Sumber: Antara